Senin, 13 Desember 2010

Mengapa Harus Memilih Herbal

Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi (jamur), yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain.  Beberapa antibiotika bersifat bacteriostatic yaitu zat yang menghambat pertumbuhan bakteri lain, dan beberapa yang bersifat bactericidal yaitu zat yang dapat membunuh bakteri lain. Cara kerja antibiotika terhadap mikroorganisme dibagi dalam empat kelompok yaitu : dengan cara menghambat pembentukan dinding sel bakteri seperti penicillin dan bacitracin, mempengaruhi pada membran sel seperti polymyxindan novobiocin, menghambat sintesa protein seperti tetracyclinesMacrolidesVirginiamicin(streptogramins) dan streptomycin dan
mempengaruhi metabolisme asam nuleus seperti griseofulvin(William, 1996). Pada sistem produksi babi berkembang cukup banyak antibiotika dan zat aditif lain yang dapat membantu meningkatkan pertumbuhan dan meningkatkan efisensi pakan, lebih kurang ada 11 antibakteri dan antifungi yang ditambahkan dalam ransum babi diantaranya adalah bacitracin, virginiamicin, chlortetracycline, dynafac, mycostatin, oxytetracycline, oleandomycin, penicillin, streptomycin, bambermycins, tilmicosin dan tylosin.

Selama 50 tahun penggunaan antibiotika didalam pakan ternak telah meningkatkan pendapatan peternak, diantaranya konversi pakan yang rendah, pertambahan berat badan harian yang tinggi.menemukan pemberian antibiotika 100 g/ton aureomycin 50 g/ton aureomycin dalam ransum babi lepas sapih sampai dengan dipotong menunjukkan efek yang positif terhadap pertumbuhan harian dan kualitas karkas (Kendall et al. 2000). Pemberian antibiotik pada anak babi berawal dari minggu pertama setelah dilahirkan, kolostrum diperoleh dari induk untuk melawan mikroorganisme yang ada disekitarnya, sampai umur tiga minggu, produksi antibodi ini menunjukkan penurunan atau tidak ada, sedangkan anak babi sampai umur lima sampai enam minggu, belum menunjukkan pembentukan antibodi sendiri, maka dengan itu fase tiga sampai lima minggu pada anak babi merupakan fase rentan penyakit. Ditambah lagi pada minggu awal ini anak babi banyak mengalami stress karena tatalaksana seperti kastrasi, penyapihan, suntik anemia, tanda telinga, stres iklim dan keberadaan mikroorgnisme yang ada. Sehingga pada masa ini perlakuan antibiotika sangat membantu sekali pada pertumbuhan anak babi (Hyun et al. 1998)

Virginiamicin adalah antibiotik yang memiliki kekuatan 15 kali lebih efektif dibanding penicillin dan 125 kali lebih efektif dibanding dengan zinc bacitracin, stabil dalam kondisi asam lambung, daya kerja pada babi sangat nyata dapat meningkatkan pertambahan bobot badan 5 – 15%, dan menurunkan konversi ransum 5 – 14 %, dan umur mencapai bobot potong 7 hari. Menurut brosur penggunaan virginiamicin pada ransum babi dari lepas sapih sampai dengan umur 4 bulan adalah 5 - 50 ppm, pada umur potong 6 bulan 5 - 20 ppm dan untuk induk menyusui 5 – 50 ppm, akan memperoleh pertambahan bobot badan harian babi grower 632 g/hari dan finisher 836 g/hari dengan konversi ransum 3,3 serta persentase karkas 79,4 (Kalbe Farma, 2006).

Beberapa hasil penggunaan virginiamicin dilaporkan oleh Anadon dan Larranaga (1999) bahwaStreptogramines atau dikenal dengan virginamicin merupakan antibiotika yang membunuh bakteri dengan cara menghambat sintesa protein. Post dan Songer (2004) melihat effek virginiamicinkonsentrasi 16 μg/mL secara invitro, dapat membunuh Clostridium difficile penyebab penyakit enteritis pada anak babi yang diperoleh dari feses induk babi yang sedang menyusui. Dierick et. al. (2003) melaporkan virginiamicin dosis 20 ppm dapat mengurangi produksi NPN yang dihasilkan oleh E. coli, S. faecalis, L. acidophilus and L. fermenti dari deaminasi dari asam amino

Sejak ditemukannya antibiotika oleh Alexander Fleming pada tahun 1928, antibiotika telah memberikan kontribusi yang efektif dan positif terhadap kontrol infeksi bakteri pada manusia dan hewan.Penggunaan antibiotika dalam pakan oleh peternak babi sebagai perangsang pertumbuhan (growth promotor) dan mencegah disentri pada babi muda, telah menambah pendapatan peternak akibat peningkatan efisiensi pakan, dengan cara mempengaruhi jumlah mikroorganisme penyebab penyakit dan penghasil racun didalam saluran pencernaan babi, sehingga mengurangi konsumsi pakan karena dinding usus menjadi tipis untuk mengabsorbsi zat makanan (Hathaway et al., 1996).

Penggunaan senyawa antibiotika dalam ransum ternak telah menjadi perdebatan sengit para ilmuan akibat efek buruk yang ditimbulkan bagi konsumen seperti residu dan resistensi. Survey AVA Singapore menemukan daging babi dari RPH di Indonesia mengandung residu antibiotika sebesar 53,7% dan 3,04% melebihi batas minimum level. Rusiana (2004) menemukan 80 ekor ayam broiler di pasar Jabotabek 85% daging dan 37% hati tercemar residu antibiotika tylosin, penicilin, oxytetracline dankanamicin. Nastassia dan Sinaga (2006) Menemukan terdapat residu antibiotikaa golongan penisilin dantetrasiklin pada hati babi sebesar 98% dari sampel yang diambil di Pasar Bandung Jawa Barat. 

Samadi (2004) melaporkan di North Carolina (Amerika Serikat) penggunaan antibiotika terus menerus pada unggas mengakibatkan bakteri Escherichia coli resisten terhadap Enrofloxacin. Di Cina diketemukan bahwa anak kandang 214 orang yang terkena inveksi Streptococcus suis tidak mengalami kesembuhan dengan menyuntikkan antibiotika Penisillin diduga mikroorganisme tersebut telah mengalami resistensi, dari 214 orang yang terkena inveksi 39 orang meninggal dunia. Hamscher (2003) menemukan debu yang berasal dari bedding, pakan dan feses peternakan babi di Jerman 90% dari sampel yang diambil mengandung 12,5 mg/kg residu antibiotika tylosin, tetracyclines, sulfamethazine dan chloramphenicol,kontaminasi udara ini akan mengganggu pernapasan hewan atau manusia yang hidup disekitar kandang. Nijsten et al. 1994 melakukan pengujian berbagai resistensi antibiotika terhadap Escherichia coli yang diisolasi dari feses peternak babi dan babi yang dipeliharanya, diperoleh resisten Escherichia coli terhadap berbagai macam perlakuan antibiotika (Tabel 1.)
Kejadian ini dapat diterangkan bahwa penggunaan antibiotika secara extensif untuk infeksi bakteri pada hewan ternak telah menyeleksi bakteri yang resisten, kemudian ia akan mentransfer resistensi tersebut ke bakteri lain, transfer resistensi bakteri tersebut berlaku juga antar berbeda spesies, hewan ke manusia atau sebaliknya (Levy et al.1988).

Penggunaan antibiotik tersebut yang terus menerus mengakibatkan terjadinya resistensi contohnya recomendasi penggunaan antibiotic dalam pakan pada tahun 50an adalah 5 – 10 ppm sekarang telah meningkat sepuluh sampai 20 kali lipat. Akibatnya beberapa negara sudah melakukan pelarangan penggunaan antibiotic pada pakan ternak.
Yang lebih menarik dan mengejutkan adalah hasil dari penelitian Salyers (2001) membandingkan resistensi Strain Bacteroides mikroorganisme perut manusia tahun 1970an sampai 1990an diperoleh resistensi antibiotika tetrasiklin sangat signifikan dari 23% pada awal tahun 1970an menjadi 80% di tahun 1990an, peningkatan tersebut disebabkan karena bahan makanan yang dikonsumsi masyarakat sekarang telah mengubah mikroorganisme yang hidup dalam system pencernaannya, contoh babi yang dipelihara dengan pemberian antibiotika dalam pakan yang cukup besar selama dia hidup, mengakibatkan bakteri yang hidup didalam system pencernaan babi menjadi resisten, kemudian babi tersebut dipotong dan dikirim kepasar dan bakteri tersebut menempel pada daging kemudian dikonsumsi manusia masuk kedalam sistem pencernaan kemudian merubah mikroorganisme dalam usus.
Maka dengan itu Komisi Masyarakat Uni Eropa sejak tanggal 1 Januari 2006 (Regulasi No. 1831/2003) penggunaan antibiotika misalnya Avilamycin, Avoparcin, Flavomycin, Salinomycin, Spiramycin, Virginiamycin, Zn-Bacitracin, Carbadox, Olaquindox, dan Monensin tidak dapat digunakan dalam ransum ternak. Pembatasan penggunaan zat aditif tersebut dalam ransum ternak, di beberapa negara eropa telah dilarang lebih awal, seperti Swedia tahun 1986, Denmark tahun 1995, dan Jerman tahun 1996.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari pengganti antibiotika sebagai growth promotor, karena tuntutan konsumen akan produk peternakan yang sehat, aman dan bebas dari residu berbahaya dengan motto “Feed quality for food safety”. Beberapa usaha alternatif pengganti antibiotika sebagai growth promotor diantaranya adalah penggunaan prebiotik, asam-asam organik, minyak essensial (essensial oil) dan berbagai jenis enzim, senyawa aditif tersebut terbukti mampu meningkatkan produksi ternak. Saat ini dikenal lebih kurang 2600 jenis minyak esensial yang dihasilkan melalui ekstraksi berbagai jenis tanaman, yang mempunyai senyawa bioaktif sebagai antioksidan, antibiotika, meningkatkan nafsu makan, sekresi kelenjar-kelenjar pencernaan dan kekebalan tubuh, untuk itu negara kita mempunyai peluang yang cukup besar karena kaya akan keanekaragaman sumber daya alam hayati ini. Kunyit dan Temu Lawak salah satunya tanaman rempah kita yang memiliki bahan aktif berupa curcumin dapat meningkatkan sekresi kelenjar liur, empedu, lambung, pancreas dan usus. Selain itu curcumin juga mempunyai kemampuan sebagai antibakterial karena berbentuk senyawa fenol yang dapat mengganggu pembentukan membran sel dari beberapa bakteri patogen seperti Salmonelladan Escherichia coli.

Beberapa hasil penelitian pemberian curcumin selain dapat meningkatkan produksi ternak juga dapat menghambat pertumbuhan beberapa mikroorganisme yang tidak diinginkan seperti antibiotika. Al-Sultan (2003) memberikan tepung kunyit sebagai pakan tambahan kepada ayam broiler dengan dosis 0,25, 0,5 dan 1% diperoleh bahwa pemberian tepung kunyit 0,5% memberikan hasil yang terbaik dengan pertambahan bobot badan harian 1344,5 g/h dan konversi ransum 2.08 juga meningkatkan jumlah sel erythrocytic dan and leukocytic. Juga Curcumin dapat menurunkan pembentukan gas didalam usus halus yang berasal dari deaminasi dari asam amino dan degradasi dari urea oleh bakteri E. coli, S. faecalis, L. acidophilus and L. Fermenti (Kiso et al., 1983)


Anda membutuhkan obat-obat herbal, alami dan berkualitas ? segera kunjungi disini


Tidak ada komentar:

Posting Komentar